Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2019

Edelweis


Lama tak menyapamu
Kau seakan hilang

Lama tak melihatmu
Kau seakan punah

Seorang teman mengingatkan tentangmu
Tentang sebuah rindu yang terpendam
Tentang segumpal cinta yang pernah merekah
Mengingatkan pada janjimu
Yang tak kan pernah layu
Meski embun menutupi dan beku
Meski angin menerjang ....... mengoyak

Indahmu masih terlihat jelas
Putihmu masih dipelupuk mata
Semerbakmu meski tak wangi, aku suka
Memberi damai dan ringan di rongga hidungku
Pesonamu tetap menjadi legenda

@De #Jaranguda 27 Juli 2019




Senin, 17 Desember 2018

Indahnya Sepi



Ketika sepi menjadi bermakna
alam hadir menemani
memberikan bisik indah
sekedar pengingat, tak ada sepi yang tak berakhir

jika kemuning mekar memberikan semerbak
dan mentari yang bersinar memberikan hangat
manalah mungkin aku yang hadir tak memberi makna

#De @Jaranguda 17 Desember 2018

Rabu, 12 September 2018

Ketika Merindumu Menjadi Terbiasa

ketika merindumu menjadi terbiasa
seperti terbiasanya aku nyruput kopi hitam tanpa gula
pahit namun nikmat

merindumu itu capek
tapi aku tak tau bagaimana menghapusnya
tombol delete nya sudah ku copot sejak pertama kali rindu

merindumu itu mahal
terpisah ruang dan waktu
kau dan aku berada di orbit berbeda
sementara teleportase hanya milik doraemon

merindumu itu membuatku menjadi tua
setiap kali merindu bertambahlah ubanku

merindumu, ah
banyak cerita dukanya
tapi aku suka
dan aku ingin bisa terus merindumu

merindumu itu berharga
setiap merindu tercipta karya
kau inspirasiku
memberi sejuk dikeringku
memberi segar dipanasku
memberi cahaya digelapku

ketika merindumu menjadi terbiasa
seperti terbiasanya aku nyruput kopi hitam tanpa gula
pahit namun nikmat

@De #Jaranguda 11 September 2018

Sabtu, 01 September 2018

Senyum Pangeran Harum

senyum itu, senyum paling indah
seindah senja yang memerah
senyum yang paling aku suka
yang memberikan romansa jingga
senyum yang membuat ku selalu rindu

memberikan energi, laksana semerbak mewangi bunga kopi yang mekar pagi hari
menyemangat jiwa seharum aromanya yang diseduh

kau istimewa diistana baru itu
selayak pangeran gagah, bertahta bermahkota mutiara
tetaplah menjadi pangeran harum yang santun
jadilah penyejuk hati ibu suri
diantara segala tikai yang menoreh luka kalbunya
mencabik-cabik raganya menumpahkan darah yang membasahi permadani hijaunya

senyum itu, senyum paling indah
persembahan pangeran harum, penyembuh luka hati ibu suri
tetap indahlah senyuman itu dari kalbu
meski lara diujung nestafa meradang

senyum itu, senyum paling indah
senyum yang paling aku suka
senyum yang membuatku selalu rindu

@De  #Brahmana_Jaranguda  01092018

Kamis, 30 Agustus 2018

Ode untuk ma'am Oriza

ada gigil yang tak biasa saat memandang wajah dalam foto itu
aku terdiam
teringat janji esok kan jumpa
kini bagai tertimpa bongkahan karang
sesaknya terasa membirukan
teman, kemarin adalah akhir sua kita
begitu yang telah tertulis di sana
tertoreh sebagai kenangan
teman, meskipun tak banyak kisah yang bisa diurai
kau telah menjadi bagian kepingan indah dalam hati kami
kini telah usai kisahmu, telah cukup baktimu
terima kasih telah menjadi bunga untuk bangsa ini, selamat jalan ma'am

@De  #Jaranguda 30-8-2018
(Kejutan yang mengharu biru dari seorang teman)

Kosong

Kali ini aku ingin bicara
ya, bicara apa saja
Kali ini hanya aku yang bicara
Eit stop, kau diam biar aku yang bicara
Tetaplah disitu jangan beranjak sedikitpun
Kali ini hanya aku yang boleh berbicara
Kau dengarkan saja
Jangan komentar
Dengarkanlah saja

Ada sesak yang memenuhi disini, iya di dada ini
Ada kosong yang melompong
Aku tak tau dari mana rasa itu, yang aku tau rasa ini membuatku hampa

Ada lelah yang tak terganti, ada jemu yang tak bisa ku kuasai, ada asa yang kian menipis, sepi
Aku seperti kehilangan kemudi, Aku oleng

Merindu tapi bukan merindu
Sepi bukan menyepi
Sepi yang teramat dalam, dingin dan kelam

kemana senja yang memerah?
kemana semerbak mewangi bunga kopi yang mekar pagi tadi?
kemana perempuan perempuan pemetik merahnya kopi?
kemana???
semua seperti hilang
hilang bersama gemuruh hati yang menjadi sepi
sepi yang dingin dan membeku

adakah hangat itu akan muncul dari timur
atau beku itu menjadi keabadianku?
hati yang pilu dan membiru

@De  #Jaranguda  30-8-2018
(Sepi meski tak sendiri)

Senin, 27 Agustus 2018

Antara Kau dan Dia

Ketika gundah gulana mengapa aku ingat Kau, harusnya aku mengingat Dia
Ketika merindu, harusnya yang kurindu adalah Dia bukan Kau
Kau memberiku rasa sepi yang dalam, dan Dia memberiku rasa damai penuh kesejukan, tapi Kau paling sering hadir
Aku ingin Dia yang hadir bukan Kau
Kau memporak porandakan hati yang rapuh dan Dia menata kembali serpihan serpihan itu
Kau membuat aku menjauhi Dia, tapi Dia mampu dan bisa mendekatkanku untuk Kau
Meskinya Hati ini dicukupkan dengan Dia yang punya dan mampu melakukan segalanya
Namun mengapa aku masih mencari Kau
Kau dengan semua kelemahan dan kekurangan sementara Dia dengan segala kelebihan yang tiada tandingnya
Dengan Dia aku tak perlu bercerita
Kau adalah nyata dan Dia antara ada dan tiada
seperti bayangan, dekat namun tak tersentuh
@De  #Kama_setengah_jam_an_Berastagi_Kabanjahe_ojolali_saat_perut_menuntut_hak_nya   27-08-2018

Jumat, 24 Agustus 2018

Untuk Nink (Mo Curhat Bunda)

aku kangen bunda, sudah banyak kusimpan cerita.
apalagi tentang dia, ah dia
porak poranda hatiku tercabik pesonanya,
dia, gak bisa ku lupa bunda
sudah pernah kucoba melupakannya, semakin pula bertambah dekat dia dipelupuk mataku.
sudah pernah kucoba menghilangkan bayangannya, semakin terasa gila dia menjelma mengikuti kemanapun, dimanapun.
bunda, kapanlah kita bisa jumpa bunda?
telah habis cara aku untuknya
ah, seperti gila aku dibuatnya
bunda
apalah dayaku jika jiwa tak berpihak pada jasadku
jiwaku melayang merindu tapi jasadku beku disini
@De #Kama_11km_ke_Jaranguda  24-08-2018
(untuk yang selalu dihantui rindu karena “kau_tak_sempat_tanyakan_aku,_cintakah aku padamu”) #pinjam kalimatnya ya Buncit#

Minggu, 12 Agustus 2018

Terlupa nuansa


semburat sinarnya, ada semangat luar bisa terpancar
meski sebentar lagi hilang bersama datangnya gelap

ada gelora yang sama di hati ini
ketika membaca sebuah pesan sahabat jauh yang sangat tulus
mengingatkanku akan sebuah nuansa
ah aku terlupa akan ia

semburat itu mengalirkan indahnya
menyelusup ke jiwa
memancarlah
memancar pasti lebih indah dari pada menutupkan kelopak

teranglah
karena terang memberikan hangat
semesta rindukan hangatmu
untuk  mekarkan bunga kopi yang menitipkan putik menguning

kembangkanlah
dengan mengembang kau mengepak
kepakkanlah sayap-sayap itu karena dengan mengepak kau akan terbang
terbanglah, lihat dunia dari sisi yang berbeda
meski senjamu akan menanti diufuknya

@De #Bus_Sutra_Medan_Berastagi  12-08-2018
(istimewa untuk inspirasikU n’ senja)


Rabu, 08 Agustus 2018

Sebuah Pesan Bercerita Kepada Sahabat


Setiap kali kubuka lembaran itu meski sudah ribuan kali
Setiap kali pula getar halus itu mengalir melewati relungku
Mengapa? Pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya

Kau telah memesonaku, meski dalam diam
Kau telah menoreh goresan halus tipis namun sering kali perih
Kau mungkin tak tau itu

Ada kalanya aku ingin membaca tulisanmu, tentang senja yang indah
atau tentang semerbak wangi bunga kopi dari kebun dibelakang rumahmu
atau tentang harum nikmat kopi yang kau seduh
Tapi seperti akan tumbuh jamur dimataku menantikan itu
Ah kau sungguh seperti misteri

Ada kalanya ketika aku ingin melupakanmu, kau malah hadir berceloteh
Tentang malam yang berwarna ungu  atau tentang bintang gemintang yang menemani rembulan memancarkan cahayanya

Kau tau kan, malam itu panjang
Aku ngantuk, kau malah memintaku menghitung bintang yang jatuh
Ah seperti tak berperasaan

(sepenggal kisah tentang Sahabat yang jauh, terinspirasi dari pesan yang hanya dibuka mungkin tak dibaca apalagi dibalas. Seolah berpesan “pahami aku, bunuh keegoisanmu”)

@De  #Jaranguda  08-08-2018

Minggu, 05 Agustus 2018

Kehilangan


Sebuah kata yang pasti sulit diterima, namun kata itu selalu akan datang
Terkadang malah datangnya tanpa pesan, sehingga kita belum sempat latihan
Kehilangan, kata itu sederhana namun sangat bisa memporak-porandakan seluruh jagat

Yang gendut aja bisa jadi kurus, yang waras kehilangan kewarasannya
Yang bening jadi kusam, yang jernih jadi keruh
Yang sehat jadi sakit

Ah sebuah kata yang menjadikan ketegaranku goyah, menghantam jiwa
Menyisakan luka, menderaikan tangis, membisukan renyahnya celoteh 
Meskipun sebenarnya kata itu sudah ku hapal-hapal sejak silam
Kata yang kini bergerilya menyusupi merahnya hati, menitipkan putih salju, membekukan

Kehilangan itu ternyata laksana angin yang semilir
Menyibak putihnya bunga kopi membawa hilang harumnya
Namun meninggalkan putik yang sebentar lagi menguning 

@De #Jaranguda 05-08-2018